Arsip

Archive for the ‘Motivasi’ Category

Berfikir Besar

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Written by Dony

Apa yang membedakan orang sukses dengan orang biasa saja adalah cara berpikirnya. Lingkungan dan keluarga kita yang membatasi kita untuk berpikir biasa. Seperti kata orang tua : “Aduh nak, tidak usah muluk-muluk, lulus SMA aja sudah lumayan, tidak usah mengharap untuk kuliah, masih bisa makan saja sudah syukur. “

Karena sejak kecil kita sudah dibilang seperti itu kita jadi takut untuk mencapai sesuatu yang lebih besar. Kita selalu beranggapan bahwa kita memang orang biasa, miskin tidak punya apa-apa padahal kalau mau berusaha keinginan itu bisa dicapai

Tidak mudah untuk membiasakan berpikir besar selalu ada bisikan dari dalam hati kita :”Ah, kamu jangan berpikir seperti itu keinginan itu sulit dicapai, lihat saja berapa banyak orang yang sudah gagal menjalankan bisnis itu.” Tergantung kita mau menuruti yang mana pikiran yang kecil, takut, ragu-ragu atau pikiran besar, maju, berani menghadapi tantangan.

Jangan takut tidak bisa mencapai keinginan atau cita-cita selama itu masih masuk akal. Selalu ada cara untuk mewujudkannya, entah itu dengan cara apa. atau bantuan dari siapa pasti ada jalannya. Apakah anda puas dengan keadaan sekarang menjadi orang biasa yang tidak berani bermimpi karena takut tidak bisa mencapainya?

Berpikir besar menuntut harga yang mahal, banyak rintangan yang akan dihadapi belum lagi hinaan dari orang -orang yang tidak percaya dengan kemampuan kita. Jangan biarkan orang-orang disekitar anda merusak impian anda, tetap fokuslah pada tujuan. Siapkan mental kita agar terbiasa menghadapi situasi yang sulit dan tidak mudah menyerah.

Anda yang berpikir besar akan mencapai hal-hal yang luar biasa dalam hidup.

Iklan
Kategori:Motivasi

Meja Kayu

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
~Author Unknown
***
Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Kategori:Motivasi

P I K I R K A N

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Orang menjadi berani ketika mereka menghadapi masalah dan resiko. Keberanian juga  muncul ketika orang harus menghadapi bahaya, marah, kesulitan dan kegagalan. Jika keberanian tidak  ada, maka masalah tidak terpecahkan, risiko harus ditanggung, dan bahaya dapat menyebabkan jiwa melayang.

Tanpa keberanian tak akan ada tindakan. Tanpa tindakan tak akan  ada perubahan. Tanpa perubahan tak akan ada masa depan yg lebih baik dan menggapai mimpi yang bisa diraih. Jadi, jika Anda  ingin menyelesaikan masalah,  ingin memperbaiki nasib, ingin merubah diri menjadi yg lebih baik dan meraih mimpi ,  Anda perlu keberanian, termasuk berani untuk koreksi diri.

Keberanian saja tidak cukup untuk bertindak. Perlu pemikiran karena segala sesuatu berawal dari pikiran.  Manusia selalu berpikir dulu baru bertindak, itulah salah satu kelebihan manusia dari mahluk lainnya. Sebenarnya kemampuan manusia itu sangat luas. Yang membatasi kemampuan manusia adalah pikiran manusia itu sendiri. Bila  pikiran Anda mengatakan Anda tidak sanggup, maka Anda tidak akan sanggup. Tapi jika pikiran Anda berani  mengatakan Anda bisa, maka kemungkinan besar sekali Anda akan  bisa.  Jadi bila belum apa-apa pikiran Anda mengatakan tidak sanggup, itu berarti Anda membatasi kemampuan Anda.

Apapun latar belakang Anda, siapapun Anda saat ini, tidak akan mempengaruhi masa depan Anda. Jadi jangan takut untuk berani berpikir besar. Karena jika Anda berani berpikir besar, maka Anda akan mendapatkan sesuatu yang besar. Jangan batasi pikiran Anda, yakinlah bahwa kemampuan Anda sangat luas, termasuk kemampuan Anda untuk menjadi orang yang lebih baik dimataNya.

Pikirkan  dan renungkanlah kata-kata bijak ini ;
Orang yang berfikiran besar membicarakan gagasan,

Orang yang berfikiran biasa membicarakan peristiwa,

Orang yang berfikiran rendah membicarakan manusia ( gossip ),

Orang yang berfikiran dangkal membicarakan diri sendiri (sombong )

Orang yang berfikiran cerdas membicarakan dan ingat akan kematian, karena dengan demikian dia akan lebih banyak mengingat Tuhannya dan berbuat  kebaikan.

Anda sudah termasuk orang berpikiran cerdas ..?

Sumber : berbagai sumber

Kategori:Motivasi

Guru dan Semangatnya

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Menjadi guru, bukanlah pekerjaan mudah. Didalamnya, dituntut pengabdian, dan
juga ketekunan. Harus ada pula kesabaran, dan welas asih dalam menyampaikan
pelajaran. Sebab, sejatinya, guru bukan hanya mendidik, tapi juga mengajarkan.
Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya.

Menjadi guru juga bukan sesuatu yang gampang. Apalagi, menjadi guru bagi
anak-anak yang mempunyai “keistimewaan”. Dan saya, merasa beruntung sekali dapat
menjadi guru mereka, walau cuma dalam beberapa jam saja. Ada kenikmatan
tersendiri, berada di tengah anak-anak dengan latar belakang Cerebral Palsy
(sindroma gangguan otak belakang).

Suatu ketika, saya diminta untuk mendampingi seorang guru, di sebuah kelas
khusus bagi penyandang cacat. Kelas itu, disebut dengan kelas persiapan, sebuah
kelas yang berada dalam tingkatan awal di YPAC Jakarta. Lazimnya, anak-anak
disana berumur antara 9-12 tahun, tapi kemampuan mereka setara dengan anak
berusia 4-5 tahun, atau kelas 0 kecil.

Saat hadir disana, kelas tampak ramai. Mereka rupanya sedang bermain susun
bentuk dan warna. Ada teriak-teriakan ganjil yang parau, dan hentakan-hentakan
kepala yang konstan dari mereka. Ada pula tangan-tangan yang kaku, yang sedang
menyusun keping-keping diagram. Disana-sini terserak mainan kayu dan plastik.
Riuh. Bangku-bangku khusus berderak-derak, bergesek dengan kursi roda sebagian
anak yang beradu dengan lantai.

Saya merasa canggung dengan semua itu. Namun, perasaan itu hilang, saat melihat
seorang guru yang tampak begitu telaten menemani anak-anak disana. “Mari masuk,
duduk sini dekat Si Abang, dia makin pinter lho bikin huruf,” begitu panggilnya
kepada saya. Saya berjalan, melewati anak-anak yang masih sibuk dengan tugas
mereka. Ah benar saja, si Abang, anak berusia 11 tahun yang mengalami Cerebral
Palsy dengan pembesaran kepala itu, tampak tersenyum kepada saya. Badannya
melonjak-lonjak, tangannya memanggil-manggil seakan ingin pamer dengan
kepandaiannya menyusun huruf.

Subhanallah, si Abang kembali melonjak-lonjak. Saya kaget. Saya tersenyum. Dia
tergelak tertawa. Tak lama, kami pun mulai akrab. Dia tak malu lagi dibantu
menyusun angka dan huruf. Susun-tempel-susun-tempel, begitu yang kami lakukan.
Ah, saya mulai menikmati pekerjaan ini. Dia pun kini tampak bergayut di tangan
saya. Tanpa terasa, saya mengelus kepalanya dan mendekatkannya ke dada. Terasa
damai dan hangat.

Sementara di sudut lain, sang Ibu guru tetap sabar sekali menemani semua anak
disana. Dituntunnya tangan anak-anak itu untuk meniti susunan-susunan gambar.
Dibimbingnya setiap jemari dengan tekun, sambil sesekali mengajak mereka
tersenyum. Tangannya tak henti mengusap lembut ujung-ujung jemari lemah itu.
Namun, tak pernah ada keluh, dan marah yang saya dengar.

Waktu berjalan begitu cepat. Dan kini, waktunya untuk pulang. Setelah
membereskan beberapa permainan, anak-anak pun bersiap di bangku masing-masing.
Dduh, damai sekali melihat anak-anak itu bersiap dengan posisi serapih-rapihnya.
Tangan yang bersedekap diatas meja, dan tatapan polos kearah depan, saya yakin,
membuat setiap orang tersenyum. Ibu guru pun mulai memimpin doa, memimpin setiap
anak untuk mengatupkan mata dan memanjatkan harap kepada Tuhan.

Damai. Damai sekali mata-mata yang mengatup itu. Teduh. Teduh sekali melihat
mata mereka semua terpejam. Empat jam sudah saya bersama “malaikat-malaikat”
kecil itu. Lelah dan penat yang saya rasakan, tampak tak berarti dibanding
dengan pengalaman batin yang saya alami. Kini, mereka bergerak, berbaris menuju
pintu keluar. Tampak satu persatu kursi roda bergerak menuju ke arah saya.
Ddduh, ada apa ini?

Lagi-lagi saya terharu. Setibanya di depan saya, mereka semua terdiam,
mengisyaratkan untuk mencium tangan. Ya, mereka mencium tangan saya, sambil
berkata, “Selamat siang Pak Guru..” Ah, perkataan yang tulus yang membuat saya
melambung. Pak guru…Pak Guru, begitu ucap mereka satu persatu. Kursi roda
mereka berderak-derak setiap kali mereka mengayuhnya menuju ke arah saya.
Derak-derak itu kembali membuat saya terharu, membayangkan usaha mereka untuk
sekedar mencium tangan saya.

Anak yang terakhir telah mencium tangan saya. Kini, tatapan saya bergerak ke
samping, ke arah punggung anak-anak yang berjalan ke pintu keluar. Dalam diam
saya berucap, “..selamat jalan anak-anak, selamat jalan malaikat-malaikat
kecilku…” Saya membiarkan airmata yang menetes di sela-sela kelopak. Saya
biarkan bulir itu jatuh, untuk melukiskan perasaan haru dan bangga saya. Bangga
kepada perjuangan mereka, dan juga haru pada semangat yang mereka punya.

***

Teman, menjadi guru bukan pekerjaan mentereng. Menjadi guru juga bukan pekerjaan
yang gemerlap. Tak ada kerlap-kerlip lampu sorot yang memancar, juga
pendar-pendar cahaya setiap kali guru-guru itu sedang membaktikan diri. Sebab
mereka memang bukan para pesohor, bukan pula bintang panggung.

Namun, ada sesuatu yang mulia disana. Pada guru lah ada kerlap-kerlip cahaya
kebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Lewat guru lah memancar
pendar-pendar sinar keikhlasan dan ketulusan pada kerja yang mereka lakukan.
Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang menyinari setiap hati anak-anak didik
mereka.

Dari gurulah kita belajar mengeja kata dan kalimat. Pada gurulah kita belajar
lamat-lamat bahasa dunia. Lewat guru, kita belajar budi pekerti, belajar
mengasah hati, dan menyelami nurani. Lewat guru pula kita mengerti tentang
banyak hal-hal yang tak kita pahami sebelumnya. Tak berlebihankah jika kita
menyebutnya sebagai pekerjaan yang mulia?

Teman, jika ingin merasakan pengalaman batin yang berbeda, cobalah menjadi guru.
Rasakan kenikmatan saat setiap anak-anak itu memanggil Anda dengan sebutan itu,
dan biarkan mata penuh perhatian itu memenuhi hati Anda. Ada sesuatu yang
berbeda disana. Cobalah. Rasakan.

Kategori:Motivasi

Berjuang

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Bila kamu Merasa Tidak mampu.. Merasa tidak Bisa.. Merasa Tidak Sanggup.. Maka, Bertanyalah, Caritaulah.. Mengapa..???) Bebaskanlah dirimu dari pikiran-pikiran mengenai yang tidak mungkin..,tidak akan.., Tidak bisa..,Tidak sanggup.., Untuk meraih kebaikan yang kamu inginkan.. Ketahuilah.. kamu punya hak untuk berhasil.. Caritaulah.. !!

Kawan2kU..) Janganlah meniru mereka yang hanya bertanya, tetapi tidak mengupayakan pengertian yang menjawab pertanyaannya…

Kawan2kU..) Ketahuilah.. kita punya hak untuk berhasil.. !!
kita punya hak untuk bisa sanGatt berhasil.. !!

oleh : arula ardian

Kategori:Motivasi

Nilai Diri Kita

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Pada suatu ketika, di sebuah taman kecil ada seorang kakek. Di dekat kaket tersebut terdapat beberapa anak yang sedang asyik bermain pasir, membentuk lingkaran. Kakek itu lalu menghampiri mereka, dan berkata:

“Siapa diantara kalian yang mau uang Rp. 50.000!!” Semua anak itu terhenti bermain dan serempak mengacungkan tangan sambil memasang muka manis penuh senyum dan harap. Kakek lalu berkata, “Kakek akan memberikan uang ini, setelah kalian semua melihat ini dulu.”

Kakek tersebut lalu meremas-remas uang itu hingga lusuh. Di remasnya terus hingga beberapa saat. Ia lalu kembali bertanya “Siapa yang masih mau dengan uang ini lusuh ini?” Anak-anak itu tetap bersemangat mengacungkan tangan.

“Tapi,, kalau kakek injak bagaimana? “. Lalu, kakek itu menjatuhkan uang itu ke pasir dan menginjaknya dengan sepatu. Di pijak dan di tekannya dengan keras uang itu hingga kotor. Beberapa saat, Ia lalu mengambil kembali uang itu. Dan kakek kembali bertanya: “Siapa yang masih mau uang ini?”

Tetap saja. Anak-anak itu mengacungkan jari mereka. Bahkan hingga mengundang perhatian setiap orang. Kini hampir semua yang ada di taman itu mengacungkan tangan. :)

***

Sahabat Resensinet, cerita diatas sangatlah sederhana. Namun kita dapat belajar sesuatu yang sangat berharga dari cerita itu. Apapun yang dilakukan oleh si Kakek, semua anak akan tetap menginginkan uang itu, Kenapa? karena tindakan kakek itu tak akan mengurangi nilai dari uang yang di hadiahkan. Uang itu tetap berharga Rp. 50.000

Sahabat resensinet, seringkali, dalam hidup ini, kita merasa lusuh, kotor, tertekan, tidak berarti, terinjak, tak kuasa atas apa yang terjadi pada sekeliling kita, atas segala keputusan yang telah kita ambil, kita merasa rapuh. Kita juga kerap mengeluh atas semua ujian yang di berikan-Nya. Kita seringkali merasa tak berguna, tak berharga di mata orang lain. Kita merasa di sepelekan, di acuhkan dan tak dipedulikan oleh keluarga, teman, bahkan oleh lingkungan kita.

Namun, percayalah, apapun yang terjadi, atau *bakal terjadi*, kita tak akan pernah kehilangan nilai kita di mata Allah. Bagi-Nya, lusuh, kotor, tertekan, ternoda, selalu ada saat untuk ampunan dan maaf.
Kita tetap tak ternilai di mata Allah.

Nilai dari diri kita, tidak timbul dari apa yang kita sandang, atau dari apa yang kita dapat. Nilai diri kita, akan dinilai dari akhlak dan perangai kita. Tingkah laku kita. seberapapun kita diinjak oleh ketidak adilan, kita akan tetap diperebutkan, kalau kita tetap konsisten menjaga sikap kita.

Sahabat, akhlak ialah bunga kehidupan kita. Merupakan seberapa bernilainya manusia. Dengan akhlak, rasa sayang dan senang akan selalu mengikuti kita, dan merupakan modal hidup.
Orang yang tidak mempunyai akhlak, meskipun ia berharta, tidak ada nilainya. Meskipun dia cantik, tapi jika sikapnya buruk dan tiada berakhlak, maka kecantikannya tiada berguna baginya. Begitu pula dengan orang yang berpangkat tinggi, tanpa akhlak, dia menjadi orang yang dibenci.

Guys, thanks for reading. Hope u r well and please do take care. Wassalamualaikum wr wb. Salam hangat!!!

oleh  : irfan

Kategori:Motivasi

Kisah 2 tukang kayu

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Dikutip dari : Nabila Bilgis

Disebuah perusahaan yg cukup besar dan bergerak dalam bidang property memiliki 2 karyawan inti yg sangat handal. Keduanya adalah seorang karyawan yg sangat teliti dan hati-hati serta bertanggung jawab saat melaksanakan pekerjaannya. Keduanya memiliki talenta yg luar biasa dalam pekerjaannya…mulai ketika memilih bahan…memproses bahan baku…sampai finishing benar-benar patut dijadikan CONTOH buat yg lain. Namun saat ini keduanya mulai lanjut usia.

Suatu hari masing-masing diberikan tugas untuk membuat satu rumah sebagai proyek terakhir sebelum keduanya pensiun. Dan seperti biasa keduanya langsung menyanggupi tugas tersebut…sebut aja namanya pak Amin dan pak Aman.

Setelah beberapa hari berselang keduanya hampir menyelesaikan proyeknya masing-masing, namun ternyata pak Aman bisa lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya, tapi setelah dilihat dalam proses pembuatan rumahnya pak Aman ini cenderung asal-asalan yang penting cepat selesai toh setelah ini dia pensiun…biasanya hati-hati memilih bahan serta teliti dalam pengerjaannya, kali ini dia merasa ogah-ogahan ketika melakukannya. Makanya cepat selesai.

Sedangkan pak Amin saat dia melakukan pekerjaan terakhirnya..tetap aja melakukan dengan sungguh-sungguh sehingga waktunya pasti lebih lama dibanding pak Aman…pak Amin tidak terlalu memikirkan apakah ini pekerjaan terakhir atau nggak yang penting apa yg dilakukan selalu yg terbaik buat dia dan orang lain….tanpa terasa rumah yg dibangun selesai juga.

Kedua orang tersebut akhirnya pergi bersama untuk melaporkan hasil pekerjaannya kepada pemilik perusahaan…

Kemudian pemilik perusahaan berkata, “Pak Amin dan pak Aman saya pribadi benar-benar sangat berterimakasih atas pengabdiannya selama ini. Dan saya tahu betul jasa yg bapak-bapak berikan begitu berharga dan saya tidak tahu bagaimana membalas kebaikan pak Amin dan pak Aman selama ini. Untuk itulah saya serahkan kunci rumah yg telah bapak2 bangun sebagai kenang-kenangan dari saya..TERIMA KASIH”.

Pasti kita bisa menebak siapa yg CEMBERUT / KECEWA dan siapa yg CERIA / BAHAGIA ketika menerima kenang-kenangan tersebut !!!

NAbila yakin banyak hikmah yg bisa didapat dari kisah diatas…sebagian hikmahnya adalah saya dan Anda bisa MEMILIH menjadi pak Aman atau pak Amin….
1. ketika melaksanakan tugas kantor misalnya ‘mau dilaksanakan sungguh-sungguh atau asal-asalan…???’

2.ketika mengerjakan proyek pemerintah misalnya ‘mau mengikuti “LINGKARAN SYSTEM” yg menyesatkan atau dikerjakan secara ideal meski dengan resiko tidak mendapat proyek kembali..???’

3.ketika menjual barang dagangan misalnya ‘mau jual barang yg BERBAHAYA / MERUGIKAN atau hanya menjual BARANG YG BERMANFAAT dan AMAN buat orang lain….karena sekarang banyak terungkap ada ayam mati dijadikan ayam goreng…bikin gorengan dicampur plastik biar kriuk-kriuk…makanan basi diolah kembali dan dijual…pembalut wanita BERBAHAYA beredar BEBAS disekitar kita, dll.

apa yg dilakukan barangkali tidak terasa dampaknya dlm waktu dekat tapi Nabila yakin semua yg kita lakukan di dunia ini PASTI akan berdampak kepada kita sendiri baik di dunia maupun di akhirat kelak.

SEMOGA BERMANFAAT….semangat !!!

Kategori:Motivasi