Beranda > Remaja > MATEMATIKA vs KEHIDUPAN MANUSIA

MATEMATIKA vs KEHIDUPAN MANUSIA


Oleh Drs. Djoko Iswadji

(Dosen Pendidikan Matematika Universitas Ahmad Dahlan)

Matematika vs Kehidupan manusia?  Aneh kedengarannya, tapi memang itulah adanya.  Memang pada kenyataannya matematika berhubungan sangat erat dalam kehidupan kita.  Bahkan kalau kita perhatikan, tiap kejadian dalam kehidupan kita ada hubungannya dengan matematika.  Bahkan sikap dan sifat kita pun sangat dipengaruhi oleh matematika.  Ga percaya?  Yuk kita baca artikel dibawah ini.

Berkepribadian matematika

Kepribadian adalah konsep yang dinamis, yang menggambarkan kondisi keseluruhan sistem kejiwaan (psikologis) seseorang, yaitu antara hati, pikiran, ucapan dan tindakan (Arnold, 1988).  Dengan demikian maka kepribadian matematika seseorang adalah hasil tempaan dari pemahaman dan pengalamannya tentang matematika.

Banyak pandangan tentang matematika, beberapa mengemukakan tentang ciri objeknya dan ada juga yang memandangnya dari pengaruhnya terhadap pola pikir dan pola tindak seseorang.  Bahwa pengalaman tentang matematika dapat membangun pola sikap yang positif, antara lain sikap rasional, sistematis dalam bertindak, kreatif, disiplin, hati-hati dan sikap lain yang pasitif dalam berfikir, berbicara dan bertindak.  Kalimat itu dapat dipahami karena matematika berkenaan dengan ide-ide abstrak yang tersusun secara hirarkis penalaran segi dedukatif. Dengan demikian, dari mereka yang mempelajari matematika dengan sungguh-sungguh dan penuh pemahaman diharapkan memiliki sifat-sifat positif, antara lain:

1.      Sederhana

Sifat ini dapat terbangun dari konsensus dalam matematika bahwa setiap persyaratan baik dalam penyusunan definisi, teorema,  maupun penyelesaian akhir harus disajikan dalam bentuk yang paling sederhana.

2.      Rasional

setiap langkah dalam penyelesaian secara deduktif harus selalu didasarkan atas alasan yang jelas dan dapat dibuktikan kebenarannya.

3.      Sistematis

Dalam setiap langkah kegiatannya selalu dimulai dengan suatu perencanaan yang disusun dalam urutan yang logis dalam pelaksanannya.

4.      Kreatif

Dalam pemecahan banyak masalah matematika dituntut kemampuan melakukan rekayasa, manipulasi, bentuk-bentuk aljabar ataupun geometri untuk dapat mudah menemukan jawabnya.

5.      Cermat dan hati-hati

Dalam penyusunan definisi harus dipilih kata-kata tertentu dalam susunan yang khusus, sehingga tidak mendua arti. Demikian juga dalam perhitungan, tanpa kehati-hatian dan kecermatan, sekalipun menggunakan perlengkapan canggih, harus di utamakan agar diperoleh hasil yang optimal.

Masih banyak lagi sikap-sikap positif yang menjdi ciri seseorang yang berkepribadian matematika antara lain disiplin, efisien dan sikap lain yang bermanfaat dalam pemecahan masalah.

Tentu saja sifat dan sikap diatas hanya mungkin dimiliki jika seseorang benar-benar hatinya menyadari akan manfaat matematika. Pikirannya senantiasa berusaha meningkatkan penguasaan matematika, ucapannya selalu mengikuti kebiasaan dalam berkalimat dalam matematika dan tindakannya mengikuti prosedur yang selalu dikembangkan dalam pemecahan masalah matematika, yaitu yang tidak semata-mata mengutamakan hasilnya, tetapi lebih mengutamakan bagaimana menempuh langkah yang benar untuk memperoleh hasilnya.

Dengan demikian, muncul satu pertanyaan,“Sudahkah masing-masing kita berkepribadian matematika?”

Aplikasi matematika dalam kehidupan sehari-hari sehingga matematika tidak hanya bersifat tekstual

Telah banyak pembicaraan tentang berbagai upaya untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa disekolah. Diantara langkah-langkah itu adalah berupaya agar pelajaran matematika menjadi lebih bermakna sehingga dapat meningkatkan minat siswa terhadap matematika, yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi belajar matematikanya.

Sebagai salah satu ilmu dasar haruslah matematika dapat dikaitkan dan membantu ilmu lainnya. Disamping itu matematika juga dapat mendukung pengembangan teknologi (ketrampilan) yang diciptakan manusia untuk memecahkan masalah-masalah dalam perkembangan kebutuhan manusia.

Jika selama ini pembelajaran matematika di rasakan selalu tekstual, dapat diartikan bahwa matematika yang diajarkan tidak pernah dikaitkan dengan peristiwa nyata atau dikaitkan dengan cabang ilmu yang lain .

Salah satu pemecahannya adalah dengan mengkaitkan setiap topik dalam matematika dengan sebanyak mungkin peristiwa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya dengan menetapkan suatu objek berupa benda atau peristiwa (kejadian tertentu) diusahakan menemukan sebanyak mungkin topik, konsep atau prnsip-prinsip dalam matematika yang terkait dengan benda atau peristiwa itu.

Kita ambil sebagai acuan tentang salah satu pengertian matematika yaitu pengetahuan yang berkenaan dengan studi tentang bilangan, ruang dan bentuk.

Dalam kaitannya dengan pengertian diatas dapatlah disimpulkan bahwa matematika akan menjawab pertanyaan-pertanyaan: berapa, bagaimana letaknya, dan bagaimana wujud atau bentuknya.

Bilangan akan menjawab pertanyaan “berapa”.

Kemampuan keruangan menjawab pertanyaan tentang “bagaiman letaknya”.

Pengetahuan tentang bangun menjawab pertanyaan “bagaimana bentuknya”.

Sebagai contoh:

1.      Dalam pembelajaran matematika tentang simetri lipat atau simetri cermin, guru pada akhir pembelejarannyadapat menugaskan siswanya untuk mencari sebanyak-banyaknya benda baik berupa benda alam maupun benda buatan manusia yang memiliki sifat simetri cermin.

2.      Ambilah sebuah benda, misalnya tubuh kita sendiri sebagai sasaran perhatian. Guru dapat menugaskan siswa untuk menyebutkan sebanyak mungkin konsep matematika yang dapat dikaitkan dengan bagian-bagian tubuh kita.

Jika siswa menyebutkan “bilangan”, akan dikaitkan dengan banyaknya kepala manusia, banyaknya bola mata, banyaknya jari tangan dan kaki, dan sebagainya.

Jika siswa menyebutkan tentang “ ruang “ maka akan dikaitkan dengan latak dua telinga, letak kedua lubang hidung, letak ruas-ruas selang jari tangan dan sebagainya.

Jika siswa menyebutkian tentang “bentuk” maka dapat dikaitkan dengan bentuk kepala, bentuk telinga, bentuk leher, dan sebagainya.

Tentu saja jawaban yang diharapkan dari siswa disesuaikan dengan jenjang sekolahnya. Makin tinggi tingkatannya makin banyak dan beragam jawabannya. Dengan demikian, tugas yang demikian dapat diberikan seawal mungkin sejak ditingkat akhir Sekolah Dasar.

Dengan langkah demikian maka siswa dikondisikan untuk senantiasa melihat keterkaitan matematika dengan pengetahuan lain, khususnya kaitannya dengan ilmu pengetahuan alam (IPA).

Pembelajaran matematika yang senantiasa mengkaitkan setiap topik dengan pemanfaatannya atau penerapannya dalam teknologi juga akan menghindari pembelajaran matematika yang tekstual.

Tentu saja pemahaman akan kemanfaatan atau peranan suatu topik matematika akan menjadi lebih dapat dipahami dengan bantuan media khususnya alat peraga yang tepat.

Dalam kaitan inilah maka implikasinya pengembangan media atau alat peraga pada pembelajaran matematika harus sekurang-kurangnya  dapat berperan untuk :

  1. membentu penanaman konsep
  2. membantu pemahaman teorema
  3. membantu menunjukkan kegunaan, kemanfaatan atau peranannya dalam pengembangan teknologi.
  4. membantu menunjukkan keterkaitannya dengan peristiwa atau benda alam ciptaan tuhan, Allah SWT.

Adalah tugas dan kewajiban kita semua untuk senantiasa melakukan upaya agar pembelajaran matematika dapat dirasakan bermakna bagi siswa.

Iklan
Kategori:Remaja
  1. Februari 4, 2010 pukul 4:27 pm

    tes

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: